Selayang Pandang
Program Studi Pengobat Tradisional merupakan program studi strata Diploma III yang mengembangkan pengobat komplementer yang komprehensif dalam bidang intervensi fisik dan herbal yang didirikan pada tahun 2005 dengan SK Rektor Nomor 6167/JO3/PP/2005. Program Studi Pengobat Tradisional juga merupakan satu-satunya program studi di Indonesia yang dalam pengelolaan perguruan tinggi sehingga Program Studi Pengobat Tradisional merupakan pionir dalam pelaksanaan dan pengembangan pengobat komplementer yang berbasiskan tradisi Indonesia.
Visi
Menjadi sentra pengembangan pengobat tradisional yang mandiri, inovatif, terkemuka di tingkat nasional, pelopor pengembangan ilmu pengetahuan, dan teknologi pengobat tradisional berdasarkan moral agama.
Misi
Misi Program Pendidikan D-III Pengobat Tradisional/BATTRA adalah:
  1. Menyelenggarakan pendidikan vokasional yang terintegrasi dalam model pelayanan kesehatan berwawasan budaya bangsa dan moral agama.
  2. Mendorong terciptanya standarisasi pendidikan BATTRA, dan standarisasi peralatan BATTRA.
  3. Melakukan penelitian di bidang BATTRA yang inovatif untuk dimanfaatkan bagi kepentingan masyarakat.
  4. Mendarmabaktikan keahlian dalam bidang BATTRA kepada masyarakat.
Tujuan
Tujuan Umum
  1. Berjiwa Pancasila dan memiliki kepribadian yang tangguh, percaya diri, hasrat untuk maju, berpikir kritis dilandasi keimanan, ketakwaan dan nilai moral yang luhur.
  2. Mempunyai kemampuan untuk menerapkan/mengembangkan model pelayanan kesehatan berwawasan budaya bangsa.
  3. Mampu mengintegrasikan pengobat tradisional ke dalam sistem pengobat konvensional yang dibutuhkan masyarakat.
  4. Bersifat terbuka, tanggap terhadap perubahan serta kemajuan ilmu dan teknologi, maupun masalah yang dihadapi masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan pelayanan di bidang pengobat tradisional.
Tujuan Khusus
  1. Melakukan perawatan dan membuat rencana pengobat tradisional penderita berdasar kompetensinya (akupunktur, herbal, terapi diet dan pijat).
  2. Menentukan jenis kebutuhan pengobat tradisional yang diperlukan penderita sebagai usaha penyembuhannya.
  3. Mampu mengintegrasikan pengobat tradisional ke dalam sistem pengobat konvensional yang dibutuhkan masyarakat.
  4. Merencanakan dan mengelola pelayanan pengobat tradisional.