Pusat Penerimaan Mahasiswa Baru

Toward World Class Universty

  • 2401,2019

    UNAIR Wadahi Diskusi Pengembangan Kesehatan dan Kedokteran Dunia

    whatsapp-image-2019-01-23-at-221213-1-696x464.jpeg

    REKTOR UNAIR Prof Dr Muhammad Nasih, SE., MT., Ak., CMA., (tengah) berfoto bersama dengan dua peserta konferensi asal luar negeri dalam jamuan Gala Dinner pembukaan QS Subject Focus Summit Medicine (tentang Kesehatan dan Kedokteran) pada Rabu¬ (23Januari 2019) di Hotel Bumi Surabaya. (Foto: Feri Fenoria)

    UNAIR NEWS – Sebagai salah satu universitas terkemuka di Indonesia, Universitas Airlangga terus mengupayakan pengembangan ilmu pengetahuan dalam lingkup nasional, juga internasional. Salah satunya diwujudkan UNAIR melalui Fakultas Kedokteran (FK) dengan mengadakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) bertajuk QS Subject Focus Summit Medicine (tentang Kesehatan dan Kedokteran) pada Rabu­-Jum’at (23-25 Januari 2019) di Surabaya.

    Fokus dengan tema ”Memajukan Ilmu Kedokteran dan Kesehatan: Pendidikan, Penelitian, dan Kolaborasi”, konferensi tersebut dibuka langsung Rektor UNAIR Prof Dr Muhammad Nasih, SE., MT., Ak., CMA., bersama Ms. Mandy Mok, Chief Executive Officer QS Asia Quarquarelli Symonds Singapore, pada Rabu malam (23 Januari 2019) di Hotel Bumi Surabaya. Hadir dalam konferensi itu sejumlah praktisi dari berbagai negara. Di antaranya, dari Hongkong, Malaysia, Netherlands, United Kingdom, Taiwan, Australia, dan Filipina.

    Dalam penyelengaraannya, UNAIR berkolaborasi dengan QS World Class University, terutama QS Asia. Kerja sama tersebut bisa terjalin mengingat UNAIR telah bergabung dengan QS Quacquarelli Symonds, penerbit QS World University Rankings.

    Konferensi itu digelar sebagai wadah mendiskusikan topik terkini bidang kesehatan dan kedokteran untuk kemajuan ilmu pengetahuan. Selain itu untuk memperkenalkan UNAIR sebagai universitas internasional yang terkenal dengan pendidikan atau penelitian kedokterannya dan salah satu anggota QS World Class University. Termasuk menjadi upaya membagikan dan memperluas jaringan serta sistem pendidikan kedokteran.

    CEO QS Asia Mandy Mok dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada UNAIR atas penyelengaraan konferensi tersebut. Menurut dia, Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk yang besar. Karena itu, problematika jumlah penduduk itu menjadi salah satu objek penelitian yang potensial, khususnya terkait dengan kesehatan.

    Pertemuan itu, lanjut dia, juga ditujukan untuk mendiskusikan topik-topik kesehatan untuk memajukan keilmuan kesehatan dunia. Khususnya melalui keaktifan para peserta yang hadir dalam kesempatan itu. Selain itu, QS Subject Focus Summit Medicine akan mengakomodasi berbagai topik yang relevan dengan para pemimpin akademik dan profesional di bidang medis dan kesehatan.

    ”Selamat datang kepada peserta. Saat ini kita berada di Kota Surabaya. Sebuah kota terbesar kedua di Indonesia. Nama Surabaya berasal dari dua kata Sura dan Baya yang berarti hiu dan buaya. Terima kasih atas pertisipasinya,” ujarnya.

    Menurut Mandy Mok, pelaksanaan konferensi tersebut didasari perkembangan pengetahuan, teknik, dan teknologi medis yang sangat cepat. Banyak pihak berwenang yang membutuhkan pendidikan medis berkelanjutan.

    Karena itu, praktisi medis didorong mampu meningkatkan pengetahuan mereka dengan berbagai cara. Termasuk di antaranya melalui jurnal medis, seminar, konferensi, dan program online. Diperlukan pula bagi para pemimpin dalam pendidikan kedokteran yang perlu mengikuti perkembangan interdisipliner dan global terbaru.

    ”Secara khusus, panitia ingin fokus pada manajemen pendidikan, penelitian dan tantangan kolaborasi dalam dunia perubahan teknologi, sosial, dan ekonomi yang cepat,” sebutnya.

    Terkait dengan kepesertaan, konferensi itu ditujukan untuk dekan, dokter, dan pemangku kepentingan dalam pendidikan kedokteran dari Indonesia dan negara-negara lain di seluruh dunia. Terutama mereka yang bergabung dengan peringkat universitas di QS. Total ada 200 peserta yang turut hadir.

    ”Juga diperuntukan bagi mahasiswa kedokteran dari seluruh Indonesia dan lembaga internasional,” ucapnya.

    Digelar selama tiga hari, konferensi itu juga diharapkan mampu mempromosikan pengembangan ilmu kedokteran dan kesehatan, memberikan pengalaman di luar dunia akademis, serta menjadi forum bagi para ilmuwan, profesional, mahasiswa, dan pemangku kepentingan terkait untuk berbagi prestasi serta mendiskusikan masalah penelitian.

    Terdapat tiga sesi diskusi yang bakal digelar selama tiga hari penyelengaraan. Dua sesi bertema ”The Impact of Information Technology in Medicine Education” dan ”Beyond Translational Method in Medicine amd Health Science” pada Kamis (24 Januari 2019). Selanjutnya, satu sesi bertema ”Collaboration in Supporting Medicine and Health Science” pada Jum’at (25 Januari 2019).

    Menambahkan pernyataan itu, Dekan Fakultas Kedokteran UNAIR Prof., Dr., Soetojo dr., Sp.U., menyambut baik pertemuan tersebut. Prof Soetojo memberikan penjelasan soal kesejarahan Fakultas Kedokteran UNAIR. Yakni, berawal dari sekolah kesehatan Belanda, (NIAS).

    ”Sebelum menjadi Fakultas Kedokteran UNAIR, dulu bernama NIAS, Nederlandsch Indische Artsen School. Kini FK terus berkembang juga berafiliasi dengan beberapa rumah sakit. Di antaranya, Rumah Sakit dr Soetomo,” katanya.

    Sementara itu, Rektor UNAIR Prof Nasih dalam sambutannya menyampaikan bahwa UNAIR berkomitmen menjadi universitas sebagai pusat pengembangan penelitian kesehatan. Terdapat pusat-pusat pengembangan penelitian bidang kesehatan yang dimiliki UNAIR. Di antaranya, UNAIR memiliki Rumah Sakit Pendidikan Universitas Airlangga, Rumah Sakit Gigi dan Mulut, dan Rumah Sakit Hewan Pendidikan Universitas Airlangga. UNAIR juga memiliki satu pusat penelitian penyakit tropis, yaitu InstitutE of Tropical Desease (ITD).

    Prof Nasih turut mengingatkan tentang tantang perkembangan teknologi ke depan semacam tantangan Revolusi Industri 4.0. Tantangan-tantangan semacam itu, lanjut dia, mesti direspons, terutama yang terkait dengan kesehatan, dengan sharing dan diskusi. Misalnya dengan konferensi semacam itu.

    ”Tantangan itu, antara lain, soal kecerdasan buatan atau artificial intelegence, juga pengembangan nanotechnology. Termasuk big datanew material3d printing, dan internet of things,” sebutnya.

    ”Kita harus bersiap menghadapi era disrupsi teknologi. Kita harus bersiap dengan solusi yang mengabungkan physical domainsdigital, dan biology,” ujarnya.

    Pada Akhir, Prof Nasih berharap konferensi itu dapat menelurkan ide-ide serta gagasan-gagasan baru untuk kemanjuan ilmu kesehatan dan kedokteran. Baik untuk memberikan dampak positif bagi keilmuan di Indonesia, maupun untuk perkembangan keilmuan di kancah internasional. (*)

Copyrights © 2018 DSI-UNAIR. All rights reserved.